lintang kemukus dini hari (Rabu, Maret 18th, 2009)

Published by dq stardust in lintang kemukus dini hari, saduran at 18:01 with no comments.

bagian ketujuhbelas
"Kenapa, Jenganten?"
"Pusing, Nyai. Pusing! Oh, hk. Napasku sesak. Dadaku sesak!"
Nyai Kartareja merangkul Srintil. Dia langsung mengerti masalahnya genting karena Srintil tidak lagi menguasai berat badan sendiri. Dan terkapar di lantai panggung. Pekik Nyai Kartareja mengawali kekusutan di sana. Dalam sekejap arena sudah penuh orang.
Kebanyakan hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun setidaknya seorang di [...]

lintang kemukus dini hari (Jumat, Februari 27th, 2009)

Published by dq stardust in lintang kemukus dini hari, saduran at 00:37 with 2 comments.

bagian ke enam belas
Si pemuda yang segera tanggap tidak menuruti ocehan dari sudut lapangan itu. Dia cukup pintar dengan cara mengganti lagunya. Para pemain diaturnya sejenak. Kemudian berkumandanglah Genjer Genjer, sebuah lagu daerah yang entah mengapa menguasai udara tanah air pada tahun 1964 itu.
Semangat dan kegembiraan pengunjung terbakar kembali. Banyak orang bangkit dari tempat duduk [...]

lintang kemukus dini hari (Senin, Januari 5th, 2009)

Published by dq stardust in lintang kemukus dini hari, ronggeng dukuh paruk at 21:44 with no comments.

bagian ke lima belas
Tetapi sesuatu itu tak bisa diraba oleh daya pikir siapa pun di Dukuh Paruk, tidak juga Sakarya. Padahal sepanjang hidupnya yang tidak pernah berhenti dari mengikuti irama dan keberimbangan alam, Sakarya telah memperoleh cukup kearifan. Bahwa suatu keluarbiasaan harus dibayar dengan kerusakan keberimbangan.
"Jangan tertawa terlalu terbahak-bahak, sebab nanti akan segera menyusul tangis [...]

lintang kemukus dini hari (Sabtu, Desember 20th, 2008)

Published by dq stardust in lintang kemukus dini hari, saduran at 15:57 with no comments.

bagian ke empat belas
"sampean memang beruntung. Tetapi yang baru sampean lakukan adalah mengubah niat. Pelaksanaannya tidak gampang, Nak. Betulkah sampean telah berhasil menghapus dendam sehingga hati sampean bersih dan putih seperti daging buah kelapa? Aku tidak yakin, Nak."
Tarim menatap wajah tamunya, lama dan menghunjam. Marsusi merasa tersinggung. Tetapi tak bisa berbuat lain kecuali diam dan [...]