ronggeng dukuh paruk (Sabtu, Mei 31st, 2008)

Published by dqstardust in Tak Berkategori at 07:18. Skip down to comments or read the others.

bagian kesebelas

Kehadiran tentara di Dawuan tidak selamanya dapat mencegah perampokan di wilayah kecamatan tersebut. Bahkan di beberapa kampung para perampok semakin berani. Pembunuhan terhadap para korban mulai berani mereka lakukan. Usaha mengatasi masalah itu ternyata bukan tugas mudah bagi Sersan Slamet bersama anak buahnya. Patroli malam hari tidak berhasil menangkap seorang perampok pun.

Sebaliknya seorang anggota tentara tewas dan seorang lainnya terluka ketika segerombolan perampok mencegat satuan patroli malam.

Sersan Slamet mengganti taktik. Anggotanya dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai tiga orang. Setiap kelompok bertugas mengawasi rumah-rumah penduduk yang diduga menyimpan emas permata. Orang-orang inilah yang selalu menjadi sasaran perampokan.

Satuan kecil itu meninggalkan posnya di Dawuan secara menyamar dan sudah siap di tempat tugas ketika matahari terbenam.

Namun karena jumlah anggota yang terbatas, aku terpaksa ikut menjadi anggota satuan, meski aku belum mendapat kepercayaan memegang senjata. Bersama Kopral Pujo aku mendapat bagian mengawasi Dukuh Paruk. Karena aku sangat mengenal pedukuhan itu, kata Sersan Slamet memberi alasan.

Di Dukuh Paruk ada tersimpan emas. Di mana lagi kalau bukan di rumah Srintil. Maka aku menerima tugas bersama Kopral Pujo dengan senang hati, meski terbersit ketakutan akan bertemu langsung dengan para perampok itu.

Setiap hari sebelum matahari terbenam, aku berangkat ke Dukuh Paruk. Kopral Pujo menyembunyikan bedilnya dalam gulungan kain sarung. Dia sendiri tidak mengenakan seragam tentara, bahkan tanpa alas kaki. Aku hanya bersenjata sebuah lampu senter. Kami usahakan agar kedatangan kami tidak diketahui oleh orang Dukuh Paruk sendiri. Tempat yang kami pakai sebagai tempat mengintai terletak di ujung pematang yang menghubungkan Dukuh Paruk dengan dunia luar.

Bila sampai fajar tak terjadi sesuatu, kami pulang ke Dawuan. Biasanya kami langsung tidur sepanjang pagi.

Sesungguhnya aku tidak berharap, sesuatu akan menimpa Dukuh Paruk. Betapapun dia adalah tanah airku yang kecil. Tetapi pada malam kesembilan, ketika cahaya bintang mampu menerangi pedukuhan itu, dari tempat pengintaian kulihat sinar lampu senter mendekat. Kubuka mataku lebar-lebar. Empat lima orang sedang berjalan beriring di atas pematang. Sinar bintang-bintang memungkinkan mataku melihat kelima orang itu masing-masing membawa benda panjang. Tak salah lagi,

bedil.

“Aduh, Kopral. Akhirnya mereka datang juga,” kataku berbisik.

“Berapa? Mataku kurang awas.”

“Lima. Semuanya bersenjata. Kita hadapi mereka?”

“Seharusnya begitu. Tetapi jangan gila. Hanya ada sepucuk senjata pada kita. Pada mereka ada lima bedil.”

“Jadi bagaimana? Keputusan harus segera kita ambil.”

“Nanti dulu. Aku mau kencing.”

Mengecewakan. Kopral Pujo tidak lebih berani daripadaku. Pada saat itu dia tidak bisa mengambil keputusan. Jadi akulah yang mengambil prakarsa.

“Kita perlu bantuan. Kopral tetap di sini. Aku akan berlari secepatnya ke Dawuan. Dalam dua puluh menit kuharap aku sudah kembali bersama Sersan Slamet.”

“Terlalu lama. Mana sentermu. Aku akan memberi isyarat ke markas.”

“Tetapi dari tempat ini isyarat itu takkan terlihat oleh Sersan Slamet. Kopral harus lari sampai ke pertengahan pematang.”

“Tak mengapa.”

“Nah inilah senter yang Kopral minta. Aku juga akan meninggalkan tempat ini mengikuti para perampok itu dari belakang.”

“Ya.”

“Hati-hati. Kopral jangan salah tembak nanti.”

“Ya.”

Selagi Kopral Pujo lari ke tengah pematang, aku mengendap mengikuti para perampok yang baru beberapa menit lewat di dekat tempat pengintaian. Benar dugaanku, mereka tidak mendatangi rumah Kartareja di mana Srintil tinggal, melainkan ke rumah Sakarya. Dengan atap seng pemberian lurah Pecikalan, rumah Sakarya kelihatan paling menonjol di Dukuh Paruk.

Kulihat dua orang perampok tetap tinggal di luar, satu di belakang dan lainnya di halaman rumah. Tiga lainnya masuk ke beranda setelah membuka pintu dengan tendangan kaki. Sakarya yang terkejut, langsung mengerti apa yang akan terjadi. Kakek Srintil itu keluar. Di ruang tengah dia berhadapan dengan tiga orang yang mengacungkan senjata kepadanya. Nyai Sakarya yang menyusul suaminya keluar langsung tersimpuh di tanah.

“Ini rumah ronggeng Srintil, bukan?” bentak salah seorang perampok kepada Sakarya. Yang dibentak menggigil ketakutan.

“Aku memang kakek Srintil. Tetapi dia tidak di sini lagi sekarang,” jawab Sakarya dengan bibir gemetar. Salah seorang perampok menampar orang tua itu sampai terhuyung. Lainnya menggeledah ke seluruh sudut rumah. Tak menemukan Srintil maupun hartanya, para penjahat kembali berlaku kasar kepada Sakarya.

“Katakan di mana Srintil tinggal! Jangan membuang waktu. Bedilku bisa meledak setiap saat.”

“Jangan, jangan. Akan kukatakan, Srintil tinggal di rumah Kartareja, tiga rumah ke timur dari sini. Tetapi jangan kalian apa-apakan dia. Sungguh. Srintil cucu tunggal kami. Ambil hartanya, tapi jangan cederai dia.”

“Itu urusanku. Kamu jangan mengajari kami.”

Sebelum meninggalkan rumah Sakarya para perampok membuat orang tua itu pingsan. Pukulan di kepala dengan menggunakan lampu senter sudah cukup. Kemudian kelima penjahat bersama-sama menuju rumah Kartareja. Dukun ronggeng itu sudah mendengar kegaduhan di rumah Sakarya. Barang-barang emas miliknya dan milik Srintil disembunyikannya di dalam abu tungku.

Seperti ketika datang ke rumah Sakarya, maka dua orang perampok tetap tinggal di luar rumah. Aku berada di balik pohon hanya beberapa langkah dengan salah seorang di antara mereka. Kudengar pintu yang didobrak. Suara-suara menghardik dan suara-suara pukulan. Sesaat berikutnya kudengar jerit Srintil. Aku mengutuk sengit mengapa Kopral Pujo belum juga muncul. Karena tidak sabar menunggu,

maka timbul keberanianku.

Penjahat yang berdiri di belakang rumah kelihatan gelisah. Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul. Ketika perampok itu membelakangiku, aku maju dengan hati-hati.

Pembunuhan kulakukan untuk kali pertama. Aku tidak biasa melihat orang terkapar di tanah. Aku belum pernah melihat bagaimana seorang manusia meregang nyawa. Pengalaman pertama itu membuat aku gemetar. Dan siap lari andaikata tidak tertahan oleh keadaan. Aku mendengar langkah mendekat. Cepat aku mengambil senjata milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson

yang tangkainya sudah diganti dengan kayu buatan sendiri. Tak mengapa. Senjata yang telah terkokang itu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.

Sesudah itu aku benar-benar merasa takut. Aku lari dan berbalik sesaat untuk menghujani rumah Kartareja dengan peluru yang masih tersisa. Kemudian aku berlari kembali. Sampai di sawah aku bertiarap di balik pematang. Thomson itu telah tersembunyi di dalam sebuah parit.

Ketika dalam keremangan kulihat empat sosok tubuh berlari ke arah pedukuhan, aku mengerti Kopral Pujo sudah datang membawa bantuan.

“Tunggu, aku Rasus.”

“He, di mana mereka?” tanya Sersan Slamet.

“Di rumah Kartareja. Cepat. Dua di antara mereka telah kubunuh,” kataku dengan menggigil.

Sersan Slamet mengatur siasat. Dia menyuruh tiga anak buahnya memasuki Dukuh Paruk dengan tugas mengusir para penjahat keluar. Dengan Thomson-nya Sersan Slamet akan mencegat mereka di tepi sawah.

Terdengar letupan-letupan ramai. Para perampok termakan oleh siasat Sersan Slamet. Mereka lari ke

luar rumah Kartareja. Satu orang tertembak oleh Kopral Pujo. Satu orang lolos, tetapi senjata Sersan Slamet berhasil membunuh seorang lainnya.

Setelah suasana sepi Sersan Slamet mengajakku melihat rumah Kartareja. Kopral Pujo dan dua temannya sudah di sana. Dengan lampu senter kucari Thomson bertangkai kayu yang tadi kulempar, Kupanggul dia dengan gagah. Di belakang rumah Kartareja aku berhenti.

No related posts.

Leave a Reply

:D :) :( :o :? 8) :lol: :x :P :wink: