bagian ketujuhbelas
"Kenapa, Jenganten?"
"Pusing, Nyai. Pusing! Oh, hk. Napasku sesak. Dadaku sesak!"
Nyai Kartareja merangkul Srintil. Dia langsung mengerti masalahnya genting karena Srintil tidak lagi menguasai berat badan sendiri. Dan terkapar di lantai panggung. Pekik Nyai Kartareja mengawali kekusutan di sana. Dalam sekejap arena sudah penuh orang.
Kebanyakan hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun setidaknya seorang di antara mereka mengerti apa yang harus dilakukannya setelah menyadari Srintil dalam keadaan pingsan.
Segala yang mengikat tubuh Srintil dikendurkannya.
Kemudian dia bersiap membuat napas buatan. Namun sebelum Tri Murdo melakukannya Srintil telah siuman.
Napasnya megap-megap seperti orang yang habis lama tenggelam. Sejenak dia kelihatan bingung.
Matanya bergulir ke kiri dan ke kanan, Kemudian dia cepat bangkit ketika menyadari seorang berdasi kupu-kupu berdiri melangkahi tubuhnya.
Wajahnya merah ketika beradu pandang dengan Tri Murdo.
Kekalutan masih berlangsung hingga beberapa lamanya meskipun Srintil sudah dituntun orang turun dari panggung.
Tak kurang suatu apa. Orang-orang tidak percaya bahwa tak ada yang kurang beres pada tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil bersikeras bahwa dirinya tidak memerlukan pertolongan apa pun kecuali sedikit waktu buat membenahi kembali pakaiannya lalu siap lagi naik panggung.
Hanya seorang yang tahu persis apa yang telah terjadi.
Marsusi dalam pakaian penyamaran berdiri di balik bayang-bayang sebatang pohon. Tangan kanannya menggenggam sebuah botol kecil sebesar kelingking.
Bila mulut botol itu ditutup dengan ibu jarinya maka terjadi heboh di panggung. Srintil tak bisa bernapas. Itu sudah sekali dibuktikannya. Dan sekali heboh belumlah cukup buat membalas kesumatnya terhadapronggeng Dukuh Paruk itu.
Dengan sabar Marsusi menanti kesempatan berikutnya.
Seperempat jam kemudian Srintil kembali menjadi fokus hidup yang mendaulat panggung. Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti bangau yang melayang meniti arus angin. Suaranya yang timbul tenggelam dalam pengeras suara bahkan memberikan kesan lebih hidup, seperti sendaren layang-layang yang meliuk-liuk di angkasa.
Perasaan segenap penonton ikut mengapung bersama irama tarian Srintil. Mereka mengikuti setiap gerak ratu panggung itu dengan mata, dengan hati, dan dengan denyut jantung mereka.
Ibu Camat dan Ibu Komandan Polisi dengan kebencian mereka. Ibu Wedana malah ceria karena melihat suaminya berjingkrak-jingkrak penuh gairah, persis seperti lelaki perkasa laiknya. Para penonton demikian terpesona sehingga mereka bingung ketika melihat tiba-tiba Srintil berhenti, berdiri tak bergerak.
Kedua lengannya yang merentang tinggi terpancang kaku. Mulutnya yang terbuka tetap dalam keadaan demikian hingga beberapa saat lamanya. Calung serentak berhenti.
Kartareja melompat ke depan, menahan tubuh Srintil yang roboh ke belakang.
Gempar lagi. Banyak orang berlompatan ke atas panggung. Juga Pak Camat. Tetapi istrinya menahannya.
Tri Murdo yang sejak tadi menonton di deretan kursi paling depan hanya dalam beberapa detik sudah menangani Srintil.
"Apa kataku. Mestinya Srintil jangan menari lagi," katanya.
Sementara petugas keamanan mengusir penonton yang berlompatan ke atas panggung. Tri Murdo berdua Nyai Kartareja berusaha menyadarkan Srintil. Kutang ketat yang membalut tubuh Srintil dari dada sampai ke pinggulnya dibuka. Wajah Srintil biru, paru-parunya berhenti.
Tetapi Tri Murdo yakin jantungnya masih berdenyut. Dia berdiri mengangkang tepat di atas perut Srintil menggerak-gerakkan kedua tangan Ronggeng itu, membuat napas buatan.
Tidak lama, karena kemudian Srintil tiba-tiba membusungkan dada menarik napas dalam-dalam. Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair. Dan terbelalak karena setagen dan kutangnya sudah terbuka. Di atas perutnya berdiri laki-laki muda berpakaian putih berdasi kupu-kupu.
Srintil cepat duduk. Tri Murdo melangkah ke samping. Orang-orang hendak mengangkat tubuh ronggeng itu.
Tetapi Srintil menolak. Nyai Kartareja merangkul dan membimbing Srintil turun dari panggung.
Setelah keadaan sedikit reda pengatur acara mengumumkan bahwa pertunjukan kesenian malam itu usai.
Meskipun keadaan sedikit kalut tetapi laki-laki itu menutup acaranya dengan teriakan mengguntur.
Penonton menyambutnya dengan teriakan bersama. Dan acungan seribu tangan mengepal. Penonton bubar dengan berbagai kesan pada diri mereka masing-masing. Namun kebanyakan dari mereka tidak
menduga macam-macam. Yang terjadi atas diri Srintil adalah sebuah permainan; suatu hal yang tidak terlalu aneh bagi masyarakat Dawuan. Hanya sedikit orang menduga Srintil terkena ayan atau penyakit lainnya.
Apabila Marsusi menghendaki nama Srintil ternoda oleh peristiwa di atas panggung ini maka dia keliru besar. Boleh jadi Marsusi merasa puas. Juga Ibu Camat atau Ibu Komandan Polisi. Tetapi ratusan lagi lainnya justru merasa bertambah simpati terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu.
Marsusi telah menyakiti burung perkutut milik umum. Beruntunglah Marsusi karena tak seorang pun tahu akan ulahnya.
Kecuali Kartareja.
Sejenak setelah Srintil sadar dia menyelinap di antara kerumunan pengunjung. Kartareja sudah menduga adanya tangan jail dan ingin segera tahu milik siapakah tangan itu.
Tidak gampang mencari satu orang di antara ratusan pengunjung. Namun Kartareja sudah mengetahui cara yang paling gampang.
Orang yang dicarinya pasti memiliki ekspresi wajah sang berbeda dan gerak-gerik yang tidak sama dengan semua pengunjung lainnya. Dan Kartareja melihat seorang yang bergegas meninggalkan arena. Pakaiannya hitam dengan ikat kepala wulung. Dikejarnya laki-laki yang kelihatan tegap itu.
"Tunggu sebentar, Mas," panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata Kartareja membulat untuk lebih
memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula Kartareja ragu.
"Oh, sampean? Ah, mestinya sampean menonton bersama Pak Camat. Tak pantas di sini, bukan?"
"Yah, terkadang orang ingin menyendiri." Jawab Marsusi tenang. Kartareja tersenyum. Marsusi tersenyum.
Dalam kebisuan mereka telah terjadi komunikasi yang intensif. Tetapi kejanggalan tidak bisa dihindari.
Marsusi menawarkan rokok yang kemudian diterima oleh Kartareja, dan langsung menyulutnya.
"Pentasmu kali ini sedikit terganggu," ujar Marsusi.
"Yah, saya maklum. Saya mengerti perasaan sampean. Yang penting, sekarang perkara utang-piutang sudah tunai."
"Hm, ya."
"Ya."
"Dan itu…"
"Apa?"
"Asuhan sampean!"
"Srintil?"
Marsusi tidak menjawab. Hanya senyumnya yang mengembang dan segera terbaca oleh Kartareja.
"Ah, itu persoalan mudah. Apalagi bagi sampean. Apabila sampean masih mau, masalahnya tinggal bagaimana sampean bisa bersabar."
"Aku memang masih penasaran. Oh, tidak. Maksudku, ronggengmu memang membuat gemas!"
"He-he."
"He-he-he."
Dan Marsusi membanting hancur botol jimatnya. Tunai sudah. Tak ada lagi siapa mempermalukan siapa.
Kartareja dan Marsusi berpisah dengan senyum. Keduanya tahu betul arti senyum mereka masing-masing.
Jam satu tengah malam rombongan dari Dukuh Paruk belum meninggalkan arena. Mereka menikmati kopi panas yang disediakan panitia. Srintil sudah melepaskan pakaian ronggengnya, duduk dikelilingi beberapa orang laki-laki yang merasa beruntung bisa berdekatan dengan ratu panggung.
Mata Srintil mencari laki-laki yang berdasi kupu-kupu. Tri Murdo masih ada tetapi sudah siap berangkat dengan rombongan orkes keroncongnya. Ketika minta diri Tri Murdo bersikap biasa, sangat biasa. Srintil menelan ludah. Bapak Wedana bangkit. Dari mulutnya terdengar tembang pucung, pujian bagi para ronggeng.
Sambil melangkah tangannya bertepuk berirama.
Sengkang ceplik, cunduk jungkat sarwi wungu
Pupur lelamatan
Nganggo rimong plangi kuning
Candanira kaya sekar dhedhompolan
Bergiwang rupa bunga tanjung, bermahkota sisir serba ungu. Bedaknya tipis rona, dengan selendang pelangi kuning. Baunya adalah harum serumpun bunga.
Ibu Wedana bertepuk tangan memberi semangat bagi suaminya. Orang-orang ikut bertepuk dan bertembang melagukan pucung yang setua Dukuh Paruk itu. Srintil tertawa dan tertawa. Keayuannya muncul pada sinar matanya, pada cerah kulitnya, dan pada kesegaran mulutnya.
Srintil menoleh kepada Ibu Wedana ketika Bapak Wedana mencubit pipinya. Ibu Wedana malah bertambah gembira.
"Siapa mengira suamiku laki-laki tanpa daya?"
Malam itu Srintil hampir tidak pulang ke Dukuh Paruk. Bapak dan Ibu Wedana memintanya dengan sangat menginap di Dawuan. Sebaliknya, Kartareja amat berkeberatan.
"Maafkan kami, Bapak. Kami orang-orang Dukuh Paruk tidak bisa berbuat sesuatu yang melanggar ketetapan yang kami anut.
Ini malam Ahad Pahing: tidak boleh tidak, kami semua harus tidur di rumah kami masing-masing di Dukuh Paruk."
No related posts.




Stumble It!