bagian ke enam belas
Si pemuda yang segera tanggap tidak menuruti ocehan dari sudut lapangan itu. Dia cukup pintar dengan cara mengganti lagunya. Para pemain diaturnya sejenak. Kemudian berkumandanglah Genjer Genjer, sebuah lagu daerah yang entah mengapa menguasai udara tanah air pada tahun 1964 itu.
Semangat dan kegembiraan pengunjung terbakar kembali. Banyak orang bangkit dari tempat duduk agar bisa lebih leluasa bertepuk tangan atau bahkan ikut tarik suara. Suasana sungguh meriah membahana.
Anehnya Srintil makin membeku di tempat duduknya. Bukan karena tidak terbawa suasana.
Di dalam hatinya terjadi letupan kegembiraan yang hanya bisa dinikmati dalam diam.
"Namanya Murdo, Tri Murdo, putra penilik sekolah di Dawuan ini," bisik Nyai Kartareja kepada Srintil.
Hanya orang yang berbakat mucikari segera menangkap apa yang terjadi dalam hati Srintil.
Dia jugalah perempuan yang paling banyak tahu data tentang para lelaki di daerahnya. "Sekolahnya di Yogya. Di
mataku Murdo adalah seorang anak muda yang bagus. Entahlah di matamu."
Srintil menepis tangan Nyai Kartareja, memberi isyarat agar perempuan tua itu tidak meneruskan kata-katanya. Srintil malu. Perubahan wajahnya begitu nyata sehingga Nyai Kartareja malah tertawa.
Sebelum hiburan musik keroncong berakhir seorang laki-laki menemui Nyai Kartareja. Rombongan ronggeng dimintanya menyiapkan diri karena waktu baginya hampir tiba. Sebenarnya, sesudah musik keroncong berakhir, tibalah giliran pertunjukan pencak silat. Tetapi tanpa penjelasan apa pun rombongan itu tidak hadir.
Nyai Kartareja membawa Srintil ke sebuah ruang tertutup di kantor kecamatan. Di sana Srintil bertukar pakaian. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, sekarang, tak ada yang kurang pas pada tubuh Srintil.
Segala hiasan alami pada tubuhnya sedang berada pada puncak perkembangannya. Ketika kebaya dan kutang dilepas tampillah pesona sang Ratih.
Lehernya yang segar menjadi perimbangan kedua pundak
yang memiliki kesempurnaan bentuk. Kalung emas, cincin, serta tiga gelang berkilat dan mempertegas keremajaan kulitnya. Giwangnya besar. Cahaya berjatuhan dari mata faset intan bila Srintil menggerakkan kepala sedikit aja.
Banyak orang menerobos masuk ingin melihat Srintil berdandan. Nyai Kartareja hanya mengusir ke luar mereka yang masih anak-anak. Bagi yang dewasa, istri dukun ronggeng itu hanya berpura-pura merasa keberatan. Tetapi sesungguhnya dia senang memperoleh kesempatan memamerkan kecantikan anak asuhannya. Srintil melihat dirinya dalam cermin kecil yang dipegangnya.
"Ya. Itulah diriku yang sebenarnya, yang demikian seharusnya. Tetap tersenyum dan gembira. Aku seorang ronggeng dan ronggeng!"
Ketika Srintil keluar diiringi Nyai Kartareja dirinya menjadi titik pusat pancaran ratusan pasang mata. Seorang laki-laki berjalan di depan menyibak kerumunan orang. Laki-laki ini langung membawa Srintil menuju panggung. Perangkat musik keroncong telah berganti dengan calung. Dan demi anu orang memberi kaca mata hitam kepada Sakum. Mula-mula Sakum menolak karena kebutaan adalah bagian hidup yang telah diterimanya tanpa rasa malu sedikit pun. Tetapi setelah dikatakan dia bertambah gagah dengan kaca mata itu Sakum menerimanya.
Srintil menapaki tangga panggung dengan iringan tepuk tangan yang riuh. Dari sudut tertentu slogan politik. "Hidup kesenian rakyat!" Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau.
Memang, sejenak dia tertegun oleh luas serta benderangnya panggung. Dia hanya terbiasa dengan arena beralaskan tikar pandan dan lampu pompa sebagai penerang.
Kemudian segenap penonton menyaksikan bagaimana Srintil menempatkan dirinya secara mengesankan sebagai pemangku utama kewibawaan panggung. Dia berdiri memutar badan ke arah semua penonton. Bibirnya sedikit ditarik sehingga terjadi keindahan lekuk di kedua ujungnya. Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun.
Angkuh tetapi teduh. Srintil sedang memberi hormat kepada penonton tanpa harus menekan harga dirinya.
Kemudian hening. Semua orang melihat Srintil merendahkan badan, duduk di hadapan para penabuh.
Rombongan dari Dukuh Paruk sedang menunaikan tata cara mereka sendiri, mengheningkan cipta sebelum pertunjukan dimulai. Dan tak seorang pun mengerti apa yang sedang bergolak di hati Srintil. Dia sadar betul dirinya sedang menjadi tumpuan pandangan lebih dari seribu pasang mata. Ada mata Ibu Camat, mata bapak ini, bapak itu, dan mata warga Dawuan. Namun Srintil menganggap tak ada beda antara sekian banyak mata itu. Baginya sama saja. Semuanya adalah mata Rasus.
Di depan mata Rasus itu Srintil akan menunjukkan betapa dirinya mempunyai sekian banyak kelebihan. Sehingga meski sudah menjadi tentara Rasus sama sekali tidak berhak mengecilkan arti dirinya. "Kamu telah meninggalkan diriku dengan cara menyakitkan.
Kamu takkan berbuat seperti itu bila kamu tidak ingin dirundung penyesalan yang mendalam.
Lihat saja!"
Tidak diperlukan pengetahuan yang mendalam untuk mengatakan bahwa pada dasarnya tarian ronggeng adalah tiruan kasar tari gambyong, sejenis tari pemanasan berahi di kalangan para ningrat. Dalam perkembangan selanjutnya tari ronggeng meniru juga tari serimpi, tari Bali, dan tari topeng. Bahkan juga tari Baladewa. Semuanya ditiru secara mentah, gaya jelata. Kadang tari-tari itu digabung tidak karuan sehingga dalam pentas orang bisa mengatakan lenggang-lenggok seorang ronggeng tidak lebih dari gerakan spontan, bermakna dangkal dan lebih ditekankan kepada kesan erotik.
Dan siapa pun yang mengikuti perkembangan Srintil sejak awal tidak akan menemukan perubahan-perubahan dalam gaya tariannya meski dia hampir enam tahun menjadi ronggeng. Kecuali malam itu yang terbukti lain. Si buta Sakum justru yang pertama merasakannya.
Sakum mendengar suara gesekan kaki Srintil di lantai panggung. Dirasakannya kibasan sampur dan didengarnya getar suara Srintil.
Semuanya berubah. Srintil seakan menari dalam keadaan marah. Andaikan mata Sakum awas tentulah diadapat melihat betapa Srintil mengangkat kedua lengannya lebih tinggi hingga tampak putih kulit
ketiaknya.
Goyang pundaknya lebih berani. Bila sedang pacak gulu mata Srintil tidak terarah kepada penonton seperti telah menjadi ciri khasnya.
Mata Srintil menantang bintang-bintang.
Senyum seorang ronggeng, apalagi bila dia sedang menari, tak pernah mempunyai makna lain kecuali ungunya bunga kecipir bagi kumbang atau merahnya kembang soka bagi kupu-kupu.
Rayuan tanpa kata atau pemikat yang bertuah.
Tetapi malam itu senyum Srintil tak mungkin diterjemahkan sebagai perayu atau pemikat.
Tarikan kedua ujung bibirnya hanya menggambarkan hati penuh martabat. Kekenesan yang pongah meski menggemaskan.
Apabila Srintil telah bertekad hendak menundukkan seribu mata Rasus maka dia terbukti berhasil melakukannya. Selama menari terbayang olehnya Rasus yang runduk tak berdaya dan penuh penyesalan, mengapa dia telah tega membuat Srintil sengsara.
"Apalah arti seorang Rasus," demikian pikir Srintil
sambil meratui panggung, "bila seribu mata terkesima padaku. Di sana ada camat, ada wedana, ada Tri Murdo, dan entah siapa lagi. Mereka terpaku di tempat masing-masing membiarkan hati mereka menjadi bulan-bulanan, membiarkan perasaan mereka menjadi permainanku."
Srintil terus menari dalam semangat yang mengesankan. Gerakannya tetap penuh tenaga meskipun biasa dia gunakan untuk beristirahat
Srintil terus melenggang dan melenggok.
Tentulah semua orang mengatakan semangat Srintil dipacu semata-mata oleh suasana panggung yang luar biasa menurut ukuran seorang ronggeng.
Atau oleh kenyataan jumlah penonton yang meluap dan termasuk orang-orang terpenting di Dawuan di antara mereka. Tak seorang pun mengerti Srintil sedang melampiaskan kemurkaan di alam bawah sadarnya.
Tak seorang pun tahu.
Kecuali Sakum. Laki-laki buta itu sudah terbiasa memahami sesuatu dengan intuisinya.
Sakum ingin menghentikan Srintil. Dengan sikunya dia menggamit Kartareja yang kebetulan duduk di sisinya. Kartareja cepat mengerti maksud Sakum, tetapi tidak berani mengambil keputusan. Maka Sakum yang bertindak.
Sentuhan irama calungnya dibuat sumbang dengan cara menyimpangkan nada tiada tertentu. Itulah cara yang sudah disepakati bila para penabuh ingin berbicara dengan ronggeng.
Namun demikian Srintil terus menari.
Baru setelah tiga buah lagu berlalu Srintil patuh akan aba-aba yang diberikan Sakum.
Lenyapnya suara calung menciptakan suasana yang mendadak janggal dan hampa.
Kekosongan udara kemudian diisi oleh bisik-bisik dari kiri-kanan yang terus mengembang menjadi dengung merata di seputar lapangan. Orang-orang mendapat kesempatan melepas ketegangan setelah sekian lama berdiam diri memampat kesan yang mendalam. Sesaat kemudian terdengar suara keras. "Terus, terus! Hidup Srintil. Hidup seniman rakyat."
"Sampean harus beristirahat, Jenganten. Jangan terlalu memaksakan diri. Tidak baik," kata Sakuni.
Srintil duduk bersimpuh, menutup mukanya dengan ujung sampur. Layaknya dia sedang melap keringat.
Tetapi hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap dalam keadaan demikian.
Dari samping terlihat pipi Srintil yang berubah pucat. Napasnya tersengal-sengal. Nyai Kartareja yang segera menangkap suasana genting cepat naik ke panggung.
Related posts:




Stumble It!
siapa yg punya blog ini ya?
Lukas last blog post..SRINTIL; SANG RONGGENG YANG MENGALAHKAN PESONA JULIET…
Reply
dq stardust Reply:
Mei 3rd, 2009 at 01:15
saya bos… ^^
Reply