lintang kemukus dini hari (Senin, Januari 5th, 2009)

bagian ke lima belas

Tetapi sesuatu itu tak bisa diraba oleh daya pikir siapa pun di Dukuh Paruk, tidak juga Sakarya. Padahal sepanjang hidupnya yang tidak pernah berhenti dari mengikuti irama dan keberimbangan alam, Sakarya telah memperoleh cukup kearifan. Bahwa suatu keluarbiasaan harus dibayar dengan kerusakan keberimbangan.

"Jangan tertawa terlalu terbahak-bahak, sebab nanti akan segera menyusul tangis sedih,"

demikian sering dikatakan Sakarya kepada anak-cucunya di Dukuh Paruk.

Entahlah. Yang terjadi malam itu di Dukuh Paruk adalah kegembiraan yang luar biasa. Hampir semua warganya keluar mengiring Srintil yang hendak meronggeng pada malam perayaan Agustusan di Dawuan.

Inilah penampilan pertama ronggeng Dukuh Paruk pada sebuah arena resmi; suatu hal baru yang membawa kebanggaan istimewa.

Malam itu semangat kota kecil Dawuan berpusat di lapangan sepak bola dekat kantor kecamatan. Sebuah panggung yang lebar, setinggi satu meter didirikan orang pada salah satu sudutnya. Dawuan belum mengenal aliran listrik. Tetapi malam itu banyak sekali lampu neon di sekitar panggung.

Suara generator yang bising, anehnya, mendatangkan kebanggaan orang. Rupanya semua orang melupakan suara bising karena toh dari sanalah tenaga bagi lampu-lampu neon yang mengagumkan itu. Bagi sebagian besar orang yang menyemut di sekitar lapangan adalah sesuatu yang luar biasa, ada cahaya terang-benderang tetapi tanpa minyak.

Rombongan dari Dukuh Paruk disambut dengan sinar mata serta wajah-wajah berseri. Para penabuh dengan perangkat calungnya diterima panitia. Mereka ditempatkan di belakang panggung. Tetapi Srintil bersama Nyai Kartareja dipersilakan duduk bersama ibu-ibu pejabat kecamatan Dawuan.

Srintil menemukan dirinya kembali utuh sebagai seorang ronggeng yang telah matang.

Suasana panggung yang megah menghidupkan seluruh permukaan kulitnya. Dan cahaya matanya. Barangkali pada saat itu baru kali pertama indang ronggeng benar-benar merasuk sepenuhnya. Dari sosoknya terpancar wibawa dan pesona luar biasa. Dia duduk tenang, setenang kembang soka di depan cungkup makam Ki Secamenggala.

Pandangan matanya adalah cahaya penuh harga diri, mantap, dan dalam ketenangan pandangan mata itu terpancar tenaga yang melumpuhkan.

Srintil sesudah berusia delapan belas adalah Srintil yang telah mengalami perihnya upacara bukak-klambu, juga sudah merasakan getirnya ditampik laki-laki idaman. Pada usia semuda itu Srintil juga sudah menjelajahi dunia perhubungan dengan sekian puluh lelaki. Dan jauh sebelum itu tanah airnya, Dukuh Paruk, telah menempanya dalam kemiskinan yang mengakar.

Sejarahnya pahit yang pasti layak membuatnya kusut, malu, dan tanpa harga diri. Apalagi saat itu Srintil duduk di antara kaum perempuan yang paling bermartabat di kecamatan Dawuan.

Sorot neon pertama di Dawuan menjadi saksi bahwa yang terjadi pada diri Srintil adalah sesuatu yang khas Srintil. Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil. Tahi kambing itu meski busuk dan menjijikkan namun mampu menyuburkan daun-daun tembakau di tanah gersang, tidak tercabik-cabik oleh sejarahnya.

Sebaliknya, Srintil bangkit membentuk dirinya sendiri dengan sejarah keterbelakangannya.

Hasilnya mulai terpapar di bawah sorot lampu neon itu. Srintil menjadi pusat suasana, menjadi daya tarik suasana dan Srintil duduk menguasai suasana.

"Itukah rupanya si Anak Dukuh Paruk itu?" bisik Ibu Camat kepada perempuan di sebelahnya. Ibu Wedana.

"Ya, itulah dia."

"Aku baru melihatnya dengan jelas sekarang."

"Bagaimana? Cantik? Kenes?"

Hati Ibu Camat risau. Tetapi perasaan itu tersembunyi di balik senyumnya yang tawar.

Kejujurannya mengakui keunggulan ronggeng Dukuh Paruk itu. Lebih cantik daripada dirinya, bahkan seandainya Ibu Camat masih sebelia Srintil.

Dengan gerakan yang amat licik mata Ibu Camat menoleh kepada deretan kursi para lelaki. Hatinya makin kacau ketika melihat kenyataan hampir semua mata laki-laki di sana terarah kepada Srintil. Tak terkecuali mata suaminya.

Ibu Wedana tersenyum. Ikhlas senyumnya karena baginya sama saja; ronggeng cantik atau ronggeng bopeng takkan membahayakan kehidupan rumah tangganya. Karena suaminya sudah tua dan impoten.

"Lihat, kondenya terlalu tinggi, kan?"

"Memang," jawab Ibu Wedana tenang saja. "Tetapi itu sengaja. Nanti Srintil akan pamer tengkuk."

"Kebayanya berantakan kukira. Potongannya acak-acakan."

"Apa pun kebayanya takkan menjadi soal. Toh nanti akan dibukanya. Dan, lihat saja. Di balik kebaya itu masih terlihat bentuk pundaknya yang amat serasi. Apalagi nanti bila pundak itu tampil telanjang."

Ibu Camat merengut. Entah dengan alasan apa dia minta diri dan berpindah ke sebelah Ibu Komandan Polisi. Sekali lagi Ibu Wedana tersenyum. Kali ini senyum kemenangan.

"Siapa bilang mempunyai suami impoten sama sekali tidak beruntung?" Di sebelah Ibu Komandan Polisi, kasak-kusuk Ibu Camat berlanjut.

"Meski cantik, tetapi kesan udiknya sangat kentara."

"Ya, memang. Aku sendiri menjadi risi, jadi ingin tahu, siapa, laki-laki mana, yang menempatkan anak udik itu duduk bersama kami."

"Mbakyu benar. Akan kuminta suamiku menyuruh orang…"

"Suruh apa?"

"Memindahkan anak Dukuh Paruk itu ke tempat lain."

Ibu Camat hendak bangkit.

Pada saat yang sama Srintil bangkit. Menoleh ke arah dua ibu yang kasak-kusuk, dengan senyum yang paling aneh. Senyum seorang rani dari atas singgasananya. Ibu Camat berhenti pada gerakan yang janggal.

Ibu Komandan Polisi berpura-pura membuka tas tangannya. Tetapi dari tempatnya yang agak terpisah Ibu Wedana tertawa terkekeh. Perang dingin itu berlangsung setengah menit, pada saat mana mata Srintil memancarkan cahaya lembut namun mampu membungkam semangat perempuan-perempuan di sekelilingnya. Kejanggalan itu berakhir ketika Nyai Kartareja menarik Srintil agar duduk kembali.

Dan Srintil duduk kembali. Tersenyum kembali dengan keanehan yang sama. Senyum gadis panggung yang selalu merasa setiap malam hiburan adalah miliknya yang paling sah.

Mendung menyaput deretan kursi kaum perempuan. Wajah Ibu Camat merah padam. Rasanya, baru sekali ini dia dilangkahi oleh perempuan

lain, dan justru oleh seorang yang di matanya tidak lebih dari sundal. Hatinya bergolak. Tetapi tenaga ajaib mana yang telah melumpuhkannya? Ibu Camat hanya bisa terpaku di kursinya. Terkalahkan oleh senyum dan sinar mata anak udik dari Dukuh Paruk. Senyum kecil serta kerlingan mata bisa membuat sakit jauh lebih hebat dari pukulan tangan: ungkapan ini sedang dirasakan kebenarannya oleh Ibu Camat.

Kegelisahan Ibu Camat serta perempuan-perempuan lain tersisih karena acara hendak dimulai. Seperti ketika pagi hari upacara diawali dengan pidato serta teriakan para pengunjung yang gemuruh. Lebih seribu tangan mengepal di udara. Mereka begitu sengit mengganyang musuh. Musuh itu dilukiskan dalam kata-kata penuh retorika oleh pembicara secara amat pintar sehingga para pengunjung seakan melihat setan yang demikian jahat dan harus segera dilumpuhkan.

Pengganyangan berlangsung lancar dan musuh tercabik-cabik, mati oleh semangat massa. Meski hanya berlangsung dalam kata-kata plus kepalan tinju, namun kelihatan memuaskan. Pembicara turun dalam iringan tepuk tangan yang panjang dan riuh.

Menang!

Acara hiburan dimulai. Seorang pengantar acara menaiki pentas. Laki-laki dengan mata burung hantu itu mengatakan penuh semangat bahwa revolusi saat ini menuntut pengabdian habis-habisan tak terkecuali dari para seniman.

Dan meskipun kebanyakan pengunjung telah maklum laki-laki itu mengatakan, rombongan musik keroncong mewakili kekuatan politik ini, rombongan pencak silat mewakili itu, serta ronggeng Dukuh Paruk mewakili yang lain lagi. Ketiga-tiganya telah bersatu-padu, seia-sekata ikut mengganyang musuh melalui pengabdian seni.

"Dan ronggeng Dukuh Paruk itu," ujarnya dengan tekanan kata yang istimewa,

"mereka adalah seniman-seniman rakyat! Rakyat yang perkasa, rakyat yang demikian tangguh, schingga mereka masih tetap menyanyi dan menari meskipun telah berabad-abad hidup tertindas. Sebentar lagi Srintil dan kawan-kawannya akan tampil di pentas ini. Tetapi jangan salah. Apa pun yang disajikannya tidak bisa lain daripada sebuah makna tuntutan kebebasan! Bebas dari penindasan kaum imperialis, kapitalis, dan kolonialis bersama antek-antek mereka. Sekali lagi, bebas!"

Dari salah satu sudut lapangan terdengar sorak-sorai yang riuh. Terasa sekali hura-hura itu diatur dengan komando. Terasa sekali ada usaha lebih menonjolkan peran rombongan ronggeng Dukuh Paruk di antara rombongan kesenian lain.

Di tempat berkumpul di sisi panggung, Sakarya melirik rekannya Kartareja.

Keduanya tidak paham akan ucapan-ucapan pengantar acara apalagi maknanya. Tetapi setidaknya kedua orang Dukuh Paruk itu merasakan ada kejanggalan. Sepanjang pengetahuaannya ronggeng tak memerlukan pengantar kata yang macam-macam sebelum mulai berpentas.

"Aku khawatir, Kang," kata Sakarya.

"Bagaimana?"

"Jangan-jangan kita melakukan kesalahan. Pentas kita kali ini dilakukan menyimpang adat.

sampeanmendengar ucapan-ucapan pengantar acara tadi?"

"Ya," jawab Kartareja. "Tetapi bagaimana, ya. Kita di sini menjadi orang yang diatur."

"Aku dilarang mereka membakar dupa, Kang. Juga syarat-syarat lainnya. Wah, hatiku sungguh tidak enak.

Bisa terjadi apa-apa nanti."

"Benar, Kang. Mereka tidak tahu bagaimana jerih kita membujuk Srintil agar mau kembali menari. Nah,

sekarang Srinfil sudah mau, tetapi mereka kelihatan tidak menghargai tata cara pementasan ronggeng."

"Aku mau pergi, Kang."

"Pergi? Ke mana?"

"Ke luar. Aku percayakan kepada sampean pengaturan atas anak-anak."

Kartareja maklum. Rekannya harus berbuat sesuatu yang berhubungan dengan arwah Ki Secamenggala. Ditempat yang penuh manusia hal-hal semacam itu tak mungkin dilakukannya.

Pergelaran musik keroncong sudah dimulai. Suasana yang tercipta oleh nada-nada klangenan membuat para pengunjung terpilah-pilah. Ketika seorang pemuda necis membawakan lagu Jenang Gula, banyak orang terkesima; hanyut terbawa ombak melankolik. Srintil menatap lurus ke arah pemuda yang berpakaian bersih dengan dasi kupu-kupu itu. Hatinya ikut bernyanyi.

Tetapi dari sudut tertentu mulai terdengar kasak-kusuk. Kemudian sebuah suara mencuat entah dari mana.

"Turun, turun! Kami tidak doyan ngak-ngik-ngok imperialis! Turun!"

No related posts.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o :? 8) :lol: :x :P :wink: