bagian ke empat belas
"sampean memang beruntung. Tetapi yang baru sampean lakukan adalah mengubah niat. Pelaksanaannya tidak gampang, Nak. Betulkah sampean telah berhasil menghapus dendam sehingga hati sampean bersih dan putih seperti daging buah kelapa? Aku tidak yakin, Nak."
Tarim menatap wajah tamunya, lama dan menghunjam. Marsusi merasa tersinggung. Tetapi tak bisa berbuat lain kecuali diam dan mempertanyakan kembali apa yang ada dalam hatinya.
"Coba, Nak. Sekarang sampean mengaku telah memaafkan Srintil, ronggeng Dukuh Paruk itu. Bagaimana masalahnya bila suatu ketika sampean melihat Srintil menjadi buah pujaan ratusan orang dalam suatupentas?
Dan, bagaimana halnya bila suatu saat sampean mendapati Srintil bergendak dengan laki-laki yang pada dasarnya lebih rendah daripada diri sampean? Betulkah dendam sampean kepadanya tidak akan kembali kumat?"
Marsusi tergagap oleh pertanyaan beruntun itu. Dan tatapan mata itu.
Tatapan mata yang penuh keyakinan diri. Marsusi dibuatnya merasa kecil.
"Aku ini sudah tua, Nak. Jangan-jangan aku lebih menguasai persoalan sampean dan lebih tahu apa yang sebaiknya sampean lakukan sekarang."
"Boleh jadi begitu, Kek. Maka tidak salah aku sampai ke tempat ini."
"Baiklah. Dalam hal diri sampean yang ternyata belum setua diriku maka balaslah sakit hati sampean. Asal adil. sampean telah dipermalukan, bukan?"
Marsusi mengangguk seperti anak kecil.
"Maka balaslah kembali dengan mempermalukannya. Hanya dengan cara itu sampean bisa membebaskan diri dari rasa dendam. Mungkin juga sampean bahkan bisa melupakan Srintil buat selama-lamanya. Sekali lagi, membalas dendam yang adil adalah dengan cara sama: mempermalukannya. Bukan menyakiti badan, apalagi membahayakan jiwanya."
"Saya sudah mengerti, Kek. Tetapi bolehkah saya bertanya?"
"Lha, mengapa tidak?"
"Andaikan yang telah mempermalukan diriku bukan Srintil, apakah sampean tetap pada kata-kata yang sama?"
Pertanyaan balik yang dilontarkan Marsusi ini membuat wajah Tarim sedikit menegang. Apabila yang
dihadapinya bukan seorang kepala perkebunan tentu kemarahannya meletus. Atau, tentu saja. Karena menyadari derajatnya Marsusi berani bertanya kepada orang pandai itu. Tarim maklum. Bibirnya yang tebal dan tumpul merekah senyum.
"Wah, saya harus berkata jujur. Begini, Nak. Srintil dalam kenyataannya bukan hanya milik orang tuanya, sanak saudaranya, bahkan bukan hanya milik Dukuh Paruk bersama kelompok ronggengnya. Dia milik semua orang. sampean juga, aku juga. Maka membuatnya tertalu celaka akan berakibat lebih buruk dari apa yang bisa kita duga. Ini sangat tidak baik, terutama bagi sampean sendiri. Percayalah!"
Marsusi mengakui dirinya kalah. Tetapi lega. Selanjutnya dia lebih banyak menganggukangguk menerima petunjuk Tarim. Ketika pertemuan dua orang itu berakhir, angin darat mulai bertiup. Meski nyamuk luar biasa banyak serta tidur di atas amparan tikar, Marsusi lelap hingga pagi. Sayang, beberapa kali dia dikejutkan oleh Dilam yang tidur gelisah dan sering mengigau.
Kegembiraan itu lahir dan berkembang dari Dukuh Paruk. Berita cepat tersiar bahwa pada malam perayaan Agustusan nanti Srintil akan kembali meronggeng. Kurang dua hari lagi, tetapi sudah banyak orang bersiap-siap.
Anak-anak mulai bertanya tentang uang jajan kepada orang tua mereka. Para pedagang, dari pedagang soto sampai pedagang pecel bersiap dengan modal tambahan, juga tukang lotre putar yang selalu menggunakan kesempatan ketika banyak orang berhimpun.
Nyai Kartareja segera memperbaiki hubungannya dengan Srintil, pertama-tama dengan berusaha mengaku bersalah dalam peristiwa Marsusi beberapa minggu berselang.
Perubahan sikapnya terhadap Srintil sangat nyata. Dia tidak berkamu lagi terhadap ronggeng Dukuh Paruk yang telah sekian lama menjadi anak akuannya. Nyai Kartareja kini memanggil Srintil dengan sebutan Jenganten atau setidaknya sampean;
suatu pertanda bahwa kedewasaan, tepatnya kemandirian Srintil telah diakuinya.
Srintil seperti hendak menjadi temanten laiknya. Dia dipingit oleh Nyai Kartareja. Badannya dilulur untuk memulihkan keremajaan kulitnya. Sebelum berangkat tidur Nyai Kartareja memintanya mengunyah
satu-dua butir merica agar suaranya tetap lantang dan jernih. Pakaian pentasnya dicuci secara istimewa.
Sementara itu Nyai Kartareja tidak perlu lagi mencari jelaga dan getah pepaya buat penghitam alis, juga tak perlu lagi menyuruh Srinitil mengunyah sirih sebelum naik pentas. Kios Pak Simbar di pasar Dawuan sudah menyediakan gincu, pensil rias, dan sebagainya.
Selagi istrinya mengurus Srintil, Kartareja menyiapkan perangkat calung. Penabuh-penabuh dihubungi dengan pesan agar nanti menampilkan permainan terbaik.
Calung-calung yang sudah lama tidak terpakai diperbaiki. Diteliti kalau ada temalinya yang putus. Ada orang datang, entah siapa. Kepada Kartareja orang itu mengaku anggota panitia. Dia menyodorkan kertas berisi catatan lagu. Tetapi karena Kartareja buta huruf orang itu membacakan untuknya. Ternyata lagu-lagu itu semua sudah dihafal oleh dukun ronggeng itu.
Hanya di sana-sini ada pergantian kata atau kalimat. Kartareja merasakan keanehan karena dalam lagu-lagu itu diselipkan kata "rakyat" dan "revolusi", kata-kata mana terasa kurang akrab dalam hatinya.
Tetapi Kartareja tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Baginya menuruti kata priyayi atau orang yang seperti itu merupakan salah satu kebajikan dalam hidup. Boleh jadi hanya Sakarya yang tidak sepenuhnya larut dalam kegembiraan. Sikapnya yang hati-hati berasal dari filsafatnya yang sederhana. Bagiya segala sesuatu berpasang-pasangan adanya, tak terkecuali sesuatu yang bernama kegembiraan. Pasangannya pastilah kesusahan.
Sepanjang lintasan hidupnya yang panjang Sakarya sering menemukan kenyataan bahwa segala sesuatu tak pernah berpisah jauh dari pasangannya. Orang selalu memilih pihak yang menguntungkan dan menjauhi pihak yang merugikan. Antara keduanya harus tetap terjaga jarak. Dan dalam pikiran Sakarya menjaga jarak itu berarti harus selalu bersikap hati-hati, eling. Kadang juga diartikannya sebagai keseimbangan dan tidak berlebih-lebihan.
Jadi Sakarya tidak ikut berhura-hura. Persiapannya menyambut kembali pementasan Srintil lebih ditekankan pada segi kejiwaan. Lebih sering memasang sesaji di dekat makam Ki Secamenggala, lebih banyak terjaga di malam hari serta mengurangi makan-minum. Srintil diperintahkannya dengan sangat ngasrep pada hari kelahirannya.
Perayaan Agustusan tahun 1964 itu dimulai dengan upacara pagi hari di lapangan kecamatan Dawuan. Pemandangan dikuasai oleh kain rentang dengan tulisan macam-macam. Ada yang direntang di antara pohon-pohon, tetapi lebih banyak yang ikut masuk ke lapangan yang padat manusia. Gelombang ribuan kepala memberi gambaran seperti pemandangan di ladang tembakau yang ditiup angin.
Acungan seribu tangan yang diiringi pekik gempita hanya dapat diandaikan kepada petir yang terjadi di hutan jati meranggas.
Semua yang berpidato mengerahkan habis-habisan tenaga urat lehernya. Agitasi, propaganda, serta slogan
kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan tangan serta riuhnya bunyi tambur. Semua
orang tegak dalam harga diri yang tertempa seketika oleh retorika para pembicara. Semua orang menggenggam semangat meluap yang setidaknya mampu mengalahkan siksaan yang datang dari sinar matahari yang mulai terik.
Gadis-gadis remaja yang biasa malu bersuara keras atau bertingkah seperti laki-laki, larut dalam semangat massa yang meluap. Mereka tidak ketinggalan mengepal tangan dan berteriak. Dan puncak hura-hura itu
meledak ketika sebuah patung kelaras jagung yang diberi kopiah serta kaca mata dibakar massa.
"Gembong musuh rakyat telah jadi abu!" teriak seorang pemuda. Matanya merah berkaca-kaca karena letupan emosi dalam dirinya.
Sakum mendukung anak pada pundaknya.
Dia berdiri di bawah pohun sengon, menjadi titik ironi di tengah galau manusia. Baru sekali ini Sakum mengutuk dirinya yang buta. Baru sekali ini Sakum gagal menerjemahkan suara dan suasana yang terekam oleh sisa indranya. Padahal Sakum sudah biasa melihat meriahnya pentas ronggeng dengan jiwa, bukan dengan matanya.
Sakum juga mampu melihat kepanikan semua orang bila datang angin ribut. Atau kecemasan anak istrinya ketika petir menyambar. Dia juga mampu menangkap ceria wajah anak-anak bila gumpalan nasi di depan mereka lebih besar dari kepalan tangan.
Tetapi Sakum tidak berputus asa. Melalui denyut nadi anak yang bertengger di pundaknya Sakum terus mencoba mengikuti dan mencari makna hiruk-pikuk yang sedang terjadi di sekelilingnya.
Bila denyut nadi anaknya mencepat Sakum mengerahkan kemampuan indrianya yang tersisa.
Terkadang juga Sakum menyadap saraf mata anaknya.
"Apa yang kaulihat, Nak?"
"Wah! Merah, merah, Pa. Bapa tidak melihat ya?"
"Apa yang merah?"
"Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera-bendera merah. Tulisan-tulisan merah.
Eh, ada juga yang hitam, hijau, dan kuning. Wah, bagus sekali, Pa."
"Siapa yang berpidato?"
"Tidak tahu."
"Mari kita mendekat barisan kuda lumping."
"Wah, panas, Pa. Tetapi tak mengapa, asalkan…"
"Hah?"
"Es, Pa. Haus."
"Tak ada uang lagi, Nak. Habis."
"Wah, jangan bohong. Tadi sebelum berangkat kulihat Srintil memberimu uang. Iya, kan? Kalau bukan es, air asem juga boleh. Haus, Pa."
Sakum mengalah. Anaknya diturunkannya dari pundak. Begitu menginjak tanah, anak itu menyeret ayahnya ke arah pedagang minuman. Sakum juga minum. Setelah membayar dan menerima uang kembali,
Sakum jongkok. Anaknya yang tangkas kembali bertengger di atas pundak.
"Ayo, tunjukkan aku jalan ke dekat barisan kuda lumping."
"Punten, punten," seru anak Sakum dari atas pundak ayahnya. Barisan orang yang padat menyisih membuka jalan. Hampir semua orang mengenal siapa laki-laki buta yang mendukung anaknya di pundak itu.
Tetapi anak Sakum yang baru berusia enam tahun itu sudah pintar memanfaatkan kebutaan ayahnya.
Sakum tidak digiringnya ke arah barisan kuda lumping melainkan ke arah pedagang balon di sudut lapangan. Meskipun tak mungkin baginya memiliki permainan yang mengagumkan itu, dia setidaknya berkesempatan melihatnya sepuas hati.
"Asu buntung! Kaubawa ke mana aku ini?" tanya Sakum sengit.
"Ke dekat barisan kuda lumping."
"Mampus kamu! Ini bukan dekat barisan kuda lumping. Bau busuk ini pasti ulah tukang balon gas, bukan?"
Anak itu tertawa lalu memutar kepala ayahnya.
"Punten, punten."
Upacara diakhiri dengan pawai. Gempita dan kepalan tinju menjalar ke segenap penjuru kota kecamatan itu. Dua-tiga anak sekolah yang jatuh pingsan karena sengatan matahari tidak mengurangi sedikit pun gelora massa.
Menjelang tengah hari segala keramaian surut. Dawuan kembali sepi, bahkan pasarnya lebih sepi dari hari biasa. Bersama orang-orang Dukuh Paruk, Sakum pulang.
Anaknya tidak lagi didukung di atas pundak. Kini anak itu menjadi tongkatnya. Dalam dunianya yang gelap Sakum masih mencoba memahami keramaian yang baru saja diikutinya. Semua orang tahu perayaan Agustusan tahun ini luar biasa ramai. Jauh lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya.
Bagi Sakum hura-hura hari ini tanpa makna betapapun keras dia berusaha menangkapnya. Dia sudah mendengar, bukan mengerti, bahwa perayaan hari ini demi mengagungkan hari kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sementara itu konsep tentang kemerdekaan baginya adalah bagian dari antah-berantah.
Baginya hidup ini harus dijalani dengan pasrah, dengan atau tanpa apa yang sering dikatakan orang kemerdekaan.
Mengapa Sakum tidak tahu bahwa teman-temannya sesama orang Dukuh Paruk tidak lebih beruntung meski mata mereka awas? Mereka juga tidak menangkap makna istimewa yang dibawa hari ini, sejarah hari ini. Mereka tidak mengerti makna pidato, tanda-tanda gambar partai, atau slogan-slogan yang telah dilihatnya memenuhi lapangan kecamatan Dawuan. Bukan hanya karena mereka sepenuhnya buta huruf.
Lebih dari itu. Dalam tradisi hidup mereka ikatan kesetiaan dan kebersamaan nyaris tak pernah menerobos ke luar batas Dukuh Paruk.
Politik dalam sisi pandang yang paling bersahaja tak pernah muncul di pedukuhan terpencil itu. Tatanan hidup mereka adalah tradisi yang berdasar pada ikatan darah keturunan.
Kesetiaan mereka berpusat pada cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengah Dukuh Paruk, makam Ki Secamenggala. Dan kedaulatan Dukuh Paruk digembalakan oleh seorang kamitua.
Suatu ketika datang seseorang ke Dukuh Paruk menawarkan gambar-gambar partai. Dikatakannya gambar itu adalah perlambangan rakyat tertindas.
Mula-mula Sakarya tertarik karena orang pendatang itu sering kali dan berulang-ulang menyebut kata "rakyat". Kata itu bagi Sakarya tidak bisa lain kecuali bermakna kaula. Siapa pun di Dukuh Paruk merasa dirinya kaula. Tetapi Sakarya kemudian bangkit menghentikan cakap orang pendatang itu ketika dia mulai berbicara tentang rakyat melarat korban kaum penindas yang jahat.
"Siapakah yang sampean maksud dengan rakyat korban kaum penindas itu?"
"Nah! Misalnya sampean sendiri bersama semua warga Dukuh Paruk ini. Darah kalian diisap habis sehingga hanya tertinggal seperti apa yang kelihatan sekarang; kemelaratan! Ditambah dengan kebodohan dan segala penyakit. Kalian mesti bangkit bersama kami."
"Nanti dulu. Menurut sampean kami adalah rakyat yang tertindas. Apa sampean tidak keliru? Kami sama sekali tidak merasa tertindas, sungguh! Sejak zaman dulu kami hidup tentram di sini."
"Itulah. sampean tidak mengerti bagaimana cara mereka melakukan penindasan terhadap rakyat. Sejak zaman nenek moyang sampean, kaum penindas itu telah melakukan kejahatannya. Cara mereka telah menyejarah. Lihatlah akibat kejahatan mereka di sini. Semua orang kurang makan! Semua orang bodoh dan sakit. Anak-anak cacingan dan kudisan. Anak-anak kalian di sini sungguh-sungguh hidup tanpa harapan."
"Yang sampean maksud dengan kaum penindas?" "Kaum imperialis, kapitalis, kolonialis, dan para kaki tangannya. Tak salah lagi!"
Wah, kami bingung, Mas. Kami tak pernah mengenal mereka. Cerita sampean kedengaran lucu. Pokoknya begini, Mas. Sejak dulu beginilah yang bernama Dukuh Paruk. Kami senang hidup di sini, karena itulah kepastian yang kami terima. Kami tak pernah percaya ada sesuatu yang lebih baik daripada kepastian itu.
Dan kekeliruan besar bila sampean berharap akan mendengar keluhan kami. Boleh jadi benar kami bodoh, miskin, dan sakit. Tetapi itulah milik kami pribadi. sampean tak usah pusinig memikirkannya. Lucu, kan?
Kami sendiri merasa biasa-biasa saja. Kenapa orang lain mesti repot?"
"sampean yang lucu karena tidak tahu dan tidak mau tahu akan sejarah?"
"Wah, sekarang sejarah. Apa pula itu, Mas"
"Sejarah itu sesuatu yang amat perkasa. Kalian tidak bisa menolak apalagi melawannya. Dan sampean
akan digilasnya bila tetap diam dalam ketololan. Tunggu saja!"
"Yang paling perkasa itu yang murbeng dumadi, Mas. Yang telah menentukan kami hidup di Dukuh Paruk ini, yang telah memastikan hidup kami seperti ini."
Jadi Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk meskipun pada tahun 1964 itu dunia di luarnya sedang berhura-hura. Pidato di mana-mana. Gambar-gambar simbol partai di mana-mana dan pawai di mana-mana. Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengahnya.
Atau sekedar Sakarya, kamitua pedukuhan kecil itu yang tak pernah lengah membaca sasmita alam. Dia merasakan datangnya hari-hari beringas. Hari-hari ketika orang-orang meninggalkan pekerjaan buat berhimpun di tanah lapang. Hari-hari ketika jalan penuh manusia mengepal tangan serta teriakan lantang.
Semuanya mengingatkan Sakarya akan sebatang pohon kelapa yang ditiup angin. Bila angin bertiup dari utara pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda pohon kelapa itu tidak langsung kembali tegak melainkan akan berayun lebih dulu ke utara.
Bagi Sakarya hura-hura di luar Dukuh Paruk adalah angin kencang yang meniup kehidupan. Seperti pohon kelapa itu: sebelum kehidupan kembali tenang lebih dulu.
harus terjadi sesuatu.
No related posts.




Stumble It!